free web site hit counter
Home » Cerita Bokep » Cerita Dewasa Anak Bosku | Cerita Sex 11 Februari 2019

Cerita Dewasa Anak Bosku | Cerita Sex 11 Februari 2019

MOMOKANISHINA Terbaik

selamat datang dengan situs momokanishina.info kami ini, situs ini akan memberikan sebuah video dan cerita seks setiap harinya dan semua yang akan diberikan ini akan sangat menggairahkan sekali dan membuat para pecinta bokep lebih birahi dalam urusan ranjang. video yang akan diberikan oleh situs ini juga berupa video seks barat, video seks jepang dan lain sebagainya serta cerita seks yang akan diberikan juga menceritakan seks indonesia yang sangat menarik bagi apra pecinta bokep mka dari itu jika para pecinta bokep tidak ingin ketinggalan dengan video dan cerita seks berkunjunglah selalu situs momokanishina.info kami ini

suatu hari aku ke jakarta. ketika aku sampai ke rumah kakakku, aku melihat ada tamu, rupanya ia adalah teman kuliah kakakku waktu dulu.aku dikenalkan kakakku kepadanya. rupanya ia sangat ramah padaku. usianya 40 tahun dan sebut saja namanya anton.ia pun mengundangku untuk main ke rumahnya dan dikenalkan anak-anak istrinya. istrinya susi 7 tahun lebih muda darinya, dan putrinya rina duduk di kelas 2 SMP

setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah kakakku, karena aku tidak ada kesibukkan apapun dan aku pun menuju rumah anton aku pun bersantai dan kemudian menyalakan VCD. selesai saru film. saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa VCD porno. karena memang sendiri aku pun menontonnya. sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu dibuka aku pun tegopoh-gopoh mematikan televisi dan menaruh pembungkus vcd di bawah karpet

saat aku masuk kembali pucatlah wajahku ranti duduk dikarpet di depan televisi dan menyalakan kembali video porno yang sedang setengah jalan. ranti memandang kepadaku dan tertawa geli.
tak tahu apa yang harus kukatakan dan khawatir kalau kularang ranti justru akan lapor pada orangtuanya, akupun ke dapur membuat minum dan membiarkan ranti menonton dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang membaca majalah

“om ayo tebak hitam kecil keringatan apa?”
“ahh gampang semut lagi push-up khan ada di tutup botol fanta gantian.. putih biru putih kecil keringatan apa?”ranti mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan
“yang benar ranti pakai seragam sekolah, kepanasan di bajaj”
ahh.. om ngeledek”
ranti meloncat dari sofa da berusaha mencubit lenganku aku menghindar, tapi ia terus menyerang sambil tertawa dan tersandung

ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. lenganku merangkul dadanya, dan ia duduk tepat diatas batang kemaluanku kamu terengah-engah dalam posisi itu. bau bedak bayi dan kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin terangsang. dan aku akupun mulai menciumi lehernya. ranti mendongakkan kepala sambil memejamkan mata dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya.

nafas ranti makin terengah dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.
“Uuuhh.. mmhh..” Ranti menggelinjang.
Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis SMP, tapi gariahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya.
Aahh..! Ranti menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos!

Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Ranti yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Ranti. Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.

“Ehh.. mmaahh..,” tangan Ranti meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir kemaluannya kucium.
Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.
“Ooohh.. aduuhh..,” Rina mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat.
Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Rina akan terlonjak dan nafas Rina seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras.

Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Ranti tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ranti.
“Mmmhh.. mmhh.. oohhmm..,” ketika Ranti membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku.
Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya.

Segera saja kemaluanku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Ranti dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Ranti dan aroma kemaluan Rina di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit.

Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ranti, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Ranti menekan pantatku dari belakang.
“Ohhmm, mam.. msuk.. hh.. msukin.. Omm.. hh.. ehekmm..”
Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Ranti semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran kemaluanku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Rina masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlalu kecil.

Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha. Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Ranti memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar padahal baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Rina terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya.

Sebentar kemudian kernyit di dahi Ranti menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Ranti mengernyit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya menceracau.
“Aduhh.. sshh.. iya.. terusshh.. mmhh.. aduhh.. enak.. Oomm..”
Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ranti, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Ranti sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak 3/4 kemaluanku menancap di kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Rina segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak.

Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ranti makin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.

Setelah tubuh Ranti melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Rina tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang ke dua.

Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.
“Aduh, Oom.. Ranti lemes. Tapi enak banget.”
Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Ranti yang masih amat kencang.

Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan.. kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme, dan Ranti.. entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Rina kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah.

Kembali ke rumah Firman, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Ranti pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kemaluanku. Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan

SEmoga dengan situs momokanishina.info ini akan membantu sekali bagi para pecinta bokep agar lebih bergairah dan birahi dalam urusan ranjang dengan sang istri

Ayo share...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone
Penulis: admin
Tags
Menu Title